Peran Penghijauan di Hulu Sungai dalam Mitigasi Banjir: Perspektif Dosen Teknik Sipil UIR

Sejumlah wilayah Indonesia masih terendam banjir pasca hujan yang terus mengguyur di beberapa pekan terakhir. Di Provinsi Riau salah satu wilayah yang terdampak banjir  adalah permukiman masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Siak, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru.

Dilansir dari media online metroriau.com, Akibat luapan air Sungai Siak tersebut, terdapat tiga kelurahan di Kecamatan Rumbai yang terdampak banjir. Tiga kelurahan itu yakni, Kelurahan Sri Meranti, Meranti Pandak dan Palas. Sebanyak 2.000 Kepala Keluarga (KK) turut merasakan akibat dari luapan sungai Siak.

Dosen program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Islam Riau (UIR), Harmiyati, S.T., M.Si., mengatakan langkah mitigasi banjir yaitu penghijauan di wilayah hulu sungai memiliki peran krusial dalam mengurangi risiko banjir dengan meningkatkan kapasitas tanah untuk menyerap air hujan.

Vegetasi membantu memperlambat laju aliran permukaan (runoff), meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, serta mengurangi erosi dan sedimentasi yang dapat mempersempit aliran sungai. Dari perspektif teknik sipil, ini terkait dengan konsep watershed management yang menekankan pemanfaatan vegetasi sebagai infrastruktur alami dalam mengontrol hidrologi daerah aliran sungai (DAS).

“Vegetasi berfungsi sebagai pengikat tanah yang efektif melalui sistem perakarannya. Pohon dan tanaman berakar kuat membantu mencegah longsor dan erosi yang dapat mengisi sungai dengan sedimen berlebih, sehingga mengurangi kapasitas tampung air sungai,” ujar Harmiyati.

Selain upaya penanaman vegetasi di hulu sungai, pendekatan Green Infrastructure yaitu konsep menjaga lingkungan yang berkelanjutan melalui penataan ruang terbuka hijau juga dapat meningkatkan efektivitas mitigasi banjir pada hilir sungai.

“Adapun mitigasi banjir berbasis green infrastructure yang dapat dilakukan oleh unsur terkait diantaranya Rainwater harvesting: Sistem tangkapan air hujan untuk menyimpan air berlebih di hulu, Retention dan detention pond: Kolam penampungan air yang memperlambat aliran air sebelum masuk ke sungai utama, dan Check dam: Struktur buatan untuk memperlambat aliran sungai dan meningkatkan infiltrasi air” sebutnya.

Selanjutnya, Bioretention system yaitu penggunakan vegetasi khusus yang memilki daya serap air tinggi serta tahan terhadap genangan air untuk menyaring dan menahan air di area perkotaan atau DAS, diantaranya Rumput Vetiver, Rumput Gajah Mini, Lidah Mertua, Akasia, Bambu.

“Dari perspektif teknik sipil, menurut saya solusi yang efektif adalah menerapkan pendekatan berbasis eco-hydrology dan climate-resilient infrastructure, di mana penghijauan dikombinasikan dengan infrastruktur teknis untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan dalam mitigasi banjir,” ungkap Hamiyati yang juga menjabat Kepala Program Studi Teknik Sipil UIR.

Contoh Penerapan Eco-Hydrology diantaranya Wetland Restoration : Mengembalikan fungsi rawa dan lahan basah sebagai area resapan air alami, Floodplain Management : Mengelola dataran banjir untuk mengurangi risiko banjir dengan mempertahankan vegetasi alami di sekitar sungai, Agroforestry di DAS : Mengkombinasikan pertanian dengan vegetasi alami untuk meningkatkan infiltrasi air dan mengurangi erosi tanah.

Selanjutnya, untuk contoh ClimateResilient Infrastructure, diantaranya Green Infrastructure seperti bioretention system, permeable pavement, dan urban green spaces, Flood-Resistant Buildings : Bangunan yang didesain dengan fondasi tinggi atau menggunakan bahan tahan air untuk menghadapi risiko banjir, Smart Drainage Systems : Menggunakan sensor dan teknologi AI untuk memprediksi dan mengelola banjir di perkotaan, serta Coastal Protection Infrastructure : Seperti tanggul hijau (mangrove restoration) untuk melindungi wilayah pesisir dari gelombang pasang.

Lebih lanjut, Harmiyati menambahkan dengan mengombinasikan kedua metode tersebut, unsur terkait seperti masyarakat dan pemeirntah dapat menciptakan solusi jangka panjang yang tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim di masa depan. Pembahasan topik ini pun dibahas dalam salah satu mata kuliah “Rekayasa Lingkungan Berkelanjutan”.(kh/hms)

Sumber Gambar : Riaupos.com

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Related Posts

Jl. Kaharuddin Nasution 113,
Pekanbaru 28284
Riau - Indonesia

FOLLOW UIR

Copyright © Universitas Islam Riau. Developed by SIMFOKOM

Copyright © Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) - Universitas Islam Riau.
Developed by BADAN SIMFOKOM

Copyright © Universitas Islam Riau. Developed by SIMFOKOM

Skip to content