Nama Prof. Dr. Arbi Haza Nasution, B.IT (Hons)., M.IT. tidak hanya dikenal di lingkungan akademik nasional. Profesor muda Universitas Islam Riau ini juga memperoleh rekognisi internasional melalui kontribusinya dalam pengembangan teknologi bahasa, khususnya untuk bahasa-bahasa low-resource dan bahasa-bahasa daerah yang selama ini belum banyak tersentuh teknologi digital.
Sebagai profesor di bidang teknologi informasi dan kecerdasan buatan pada usia 36 tahun, Prof. Arbi membawa isu yang sangat relevan bagi Indonesia dan dunia, yaitu bagaimana teknologi bahasa dapat menjadi lebih inklusif. Dalam banyak kasus, sistem kecerdasan buatan modern lebih banyak dikembangkan untuk bahasa-bahasa besar yang memiliki data melimpah. Sementara itu, bahasa daerah, bahasa minoritas, dan bahasa yang terancam punah sering kali tertinggal dalam ekosistem teknologi.
Konsistensi Prof. Arbi dalam bidang tersebut mendapat perhatian dari UNESCO. Ia pernah diundang dalam forum internasional Language Technologies for All atau LT4All. Forum ini mempertemukan para peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas masa depan teknologi bahasa yang lebih adil, inklusif, dan berpihak pada keberagaman linguistik.
Rekognisi internasional tersebut menjadi penting karena Prof. Arbi tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama Universitas Islam Riau, Riau, dan Indonesia ke forum global. Melalui risetnya, ia menunjukkan bahwa isu bahasa daerah bukan sekadar persoalan budaya, tetapi juga bagian dari tantangan besar dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Salah satu kontribusi pentingnya adalah pada pengembangan teknologi untuk induksi leksikon dwibahasa, penerjemahan mesin multibahasa, dan pemodelan bahasa untuk rumpun bahasa yang berkerabat dekat. Dalam konteks Indonesia, riset ini memiliki nilai strategis karena Indonesia memiliki keragaman bahasa yang sangat luas. Teknologi yang dikembangkan untuk bahasa-bahasa low-resource dapat membantu dokumentasi, revitalisasi, pembelajaran, hingga komunikasi lintas bahasa.
Prof. Arbi juga terlibat dalam Indonesia Language Sphere Project, sebuah inisiatif kolaboratif untuk membangun kamus dwibahasa secara semi-otomatis antarbahasa etnik Indonesia. Proyek ini memperlihatkan bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan bukan hanya untuk efisiensi industri, tetapi juga untuk menjaga warisan bahasa dan memperkuat identitas kebudayaan.
Dari Riau, Prof. Arbi membawa pesan bahwa masa depan AI tidak boleh hanya dimiliki oleh bahasa-bahasa besar dunia. Kecerdasan buatan harus dapat melayani semua bahasa, termasuk bahasa daerah, bahasa minoritas, dan bahasa masyarakat yang selama ini belum mendapatkan ruang memadai dalam teknologi digital global.
Baca informasi seputar kampus lainnya pada laman http://uir.ac.id
Serta kunjungi website Penerimaan Mahasiswa Baru UIR http://pmb.uir.ac.id


