Beberapa waktu terakhir publik kembali tertuju pada pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tembus 18.037 Rupiah per dolar AS pada hari ini 05 Juni 2026. Pelemahan nilai tukar rupiah ini memicu beragam reaksi di Masyarakat, mulai dari kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi hingga spekulasi kemungkinan terulangnya krisis ekonomi atau crisis moneter seperti yang terjadi pada tahun 1998 lalu.
Namun di tengah derasnya arus informasi tersebut muncul satu pertanyaan penting yaitu apakah masyarakat benar-benar memahami kondisi ekonomi yang sedang terjadi atau justru memahami kondisi tersebut melalui cara media membingkainya?
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Islam Riau (UIR) Dr. Dafrizal, M.Soc. Sc., saat diwawancara oleh Tim Humas UIR pada Jumat (05/06/2026) berpendapat media memiliki peran besar dalam membentuk pemahaman publik terhadap isu ekonomi termasuk Ketika memberitakan pelemahan rupiah.
“”Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara publik melihat realitas. Ketika media lebih menonjolkan sisi ancaman dan ketidakpastian, masyarakat cenderung memandang situasi secara pesimis. Sebaliknya, ketika media lebih banyak menampilkan solusi dan langkah penanganan, persepsi publik juga akan lebih optimistis,” jelasnya.
Ia mencontohkan dua judul berita yang membahas isu serupa namun menghasilkan persepsi berbeda. Judul seperti ‘Rupiah Terus Anjlok, Krisis Ekonomi 1998 Bisa Terulang di Indonesia’ akan memunculkan kecemasan dan kekhawatiran publik. Sementara judul ‘Pemerintah Siapkan Langkah Stabilisasi Rupiah untuk Mencegah Krisis Ekonomi’ cenderung membangun rasa tenang dan optimisme.
Daya Tarik Judul Sensasional
Di era yang saat ini serba digital, persaingan media juga semakin ketat. Setiap media berlomba mendapatkan perhatian pembaca melalui berbagai strategi, salah satunya penggunaan judul yang sensasional atau clickbait.
“Judul yang sensasional mampu mendorong public untuk mengklik dan membaca berita. Ketika perhatian Masyarakat sudah berhasil diraih, maka agenda yang dibawa media berpotensi masuk ke dalam kesadaran public dan mempengaruhi cara mereka berpikir hingga bertindak,”ujarnya.
Dalam konteks pelemahan rupiah, penggunaan judul yang berlebihan tanpa didukung konteks yang memadai berisiko menciptakan kepanikan yang tidak proporsional. Sebaliknya, judul yang informatif dapat membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih rasional.
Narasumber dan Data Menentukan Arah Persepsi
Selain judul, pemilihan narasumber dan data juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi cara public memandang kondisi ekonomi. Menurutnya, media pada dasarnya memiliki kebijakan editorial yang menentukan arah suatu isu akan ditampilkan kepada public. Kebijakan tersebut tercermin melalui sosok yang diwawancarai dan data yang lebih banyak ditonjolkan.
Jika media ingin menyoroti sisi kritis terhadap kebijakan pemerintah, maka narasumber yang dipilih cenderung berasal dari kalangan yang menyoroti kelemahan atau persoalan ekonomi yang sedang terjadi. Sebaliknya, jika media ingin menampilkan sisi optimistis, maka narasumber dan data yang dipilih biasanya lebih menekankan strategi penyelesaian masalah serta peluang pemulihan ekonomi.
“Karena itu masyarakat perlu memahami bahwa setiap pemberitaan memiliki sudut pandang tertentu. Penting bagi publik untuk membandingkan informasi dari berbagai sumber agar memperoleh gambaran yang lebih utuh,” katanya.
Media di Tengah Persaingan Digital
Lebih lanjut, Dafrizal menilai objektivitas media saat ini menghadapi tantangan semakin kompleks. Jika pada era media konvensional fokus utama adalah penyampaian informasi, maka pada era digital media juga harus berhadapan dengan tuntutan trafik, engagement, algoritma, hingga kepentingan bisnis.
“Media saat ini tidak hanya berhadapan dengan tuntutan jurnalistik, tetapi juga tekanan ekonomi industri media. Ada kebutuhan memperoleh klik, mempertahankan pembaca, hingga memenuhi target iklan. Inilah yang membuat objektivitas menjadi tantangan tersendiri,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa media tidak boleh semata-mata berorientasi pada keuntungan bisnis. Fungsi edukasi dan tanggung jawab sosial tetap harus menjadi landasan utama dalam pemberitaan.
Peran Media Dalam Mengedukasi Masyrakat
Media harus mejalankan fungsi edukasi agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu pelemahan rupiah saat ini. Media harus sadar bahwa ia memiliki tanggungjawab sosial untuk memastikan kehidupan tatanan sosial masyarakat bertumbuh dengan baik.
Penerapan pendekatan peace journalism atau jurnalisme damai dalam pemberitaan ekonomi. Pendekatan ini menekankan penyampaian informasi yang akurat, berimbang, dan berorientasi pada solusi, bukan sekadar memperbesar konflik atau kepanikan.
“Media perlu menghadirkan informasi berbasis data yang akurat dan komprehensif, menghadirkan narasumber yang kompeten, serta menghindari kepentingan politik maupun konflik kepentingan tertentu. Yang terpenting adalah meningkatkan literasi ekonomi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai spekulasi yang beredar,” ujarnya.(kh/hms)
Baca informasi seputar kampus lainnya pada laman https://uir.ac.id/berita-kampus/
Informasi seputar Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UIR pada laman https://pmb.uir.ac.id/
Sumber Gambar : detikfinance.com


