Inovasi dan kreativitas kembali dituangkan oleh mahasiswa terbaik Universitas Islam Riau (UIR). Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2024 Reva Rahmania, Indratama Arya Putra, dan Muhammad Farid Amirul, ketiganya kompak melahirkan inovasi “Kapau Pocket” yang di reinventing dari Nasi Kapau.
Inovasi ini dituangkan dalam lomba Pendidikan Karya tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) Departemen Pengembangan Karir pada tanggal 12 September 2026 lalu. Kegiatan PENDIKAR tahun ini mengangkat tema CareerLab: “Create ideas, Explore Potential to Build Career”.
Adapun sub tema yang dipilih yaitu Ekonomi Kreatif dan Kearifan Lokal, Menggali potensi ekonomi kreatif dengan mensinergikan kearifan lokal dengan modernisasi. Sub tema ini mengkaji bagaimana budaya, seni, dan produk lokal dapat dikembangkan melalui strategi pemasaran digital atau inovasi agar mampu bersaing di pasar global tanpa menghilangkan identitas jati dirinya.
“Saat kompetisi pada tahap 1 diikuti 173 universitas yang mengirimkan delegasi, selanjutnya dipilih 20 tim terbaik dan pada tahap 2 diseleksi lagi sebanyak 5 tim dari 20 tim tersebut yang akan bertanding di babak grand finalis. Alhamdulillah tim UIR masuk top 5 grand finalis essai”, ujar Reva Rahmania.
Atas inovasi ini mahasiswa Fakultas Hukum UIR berhasil mendapatkan juara III. Kepada tim humas Reva bercerita, inovasi Kapau Pocket berangkat dari keberadaan Nasi Kapau yang secara historis lahir di Nagari Kapau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kuliner tersebut berkembang dari warung nasi yang dikelola perempuan pada abad ke-19, seiring tradisi merantau masyarakat Minangkabau yang membuat perempuan memiliki peran penting dalam menopang perekonomian keluarga.
“Kapau Pocket dirancang dengan mengubah format penyajian Nasi Kapau menjadi pangan portable. Produk ini menggunakan Bareh Solok sebagai bahan utama nasi, kemudian dipadukan dengan rendang sebagai isian utama, Lado Karambia sebagai pelengkap, serta daun singkong atau pucuk ubi. Pemilihan bahan tersebut tidak hanya mempertimbangkan cita rasa, tetapi juga karakteristik bahan dan identitas kuliner Minangkabau.”, Ujar Reva.
Dalam melahirkan inovasi ini, pengembangan Kapau Pocket juga dilakukan melalui desain kemasan. Bentuk kemasan dirancang mengikuti lekuk tangan agar lebih nyaman digenggam dan membantu menjaga isian tetap berada di dalam produk. Kemasan tersebut dilengkapi dengan garis tear strip sehingga konsumen dapat membukanya tanpa memerlukan alat tambahan.
Inovasi Kapau Pocket menunjukkan bahwa pelestarian kuliner tradisional tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan bentuk penyajian yang sama. Adaptasi terhadap kebutuhan zaman dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan kuliner tetap hidup, sekaligus membuka peluang bagi produk lokal untuk berkembang dalam ekosistem ekonomi kreatif. (hms/smh)
Baca informasi seputar kampus lainnya pada laman http://uir.ac.id
Serta kunjungi website Penerimaan Mahasiswa Baru UIR http://pmb.uir.ac.id



