Di tengah reruntuhan pasca bencana tanah longsor Galodo di Sumatera Barat, pada medio November 2025 lalu, seorang mahasiswa Psikologi Universitas Islam Riau (UIR) memilih hadir tidak hanya sebagai relawan, tetapi juga sebagai pendamping psikologis bagi para penyintas. Ia adalah Dimas Aditya Permana Putra, mahasiswa Program Studi Psikologi UIR yang dikenal aktif berorganisasi sebagai Wakil Gubernur BEM Fakultas Psikologi sekaligus Penjabat (Pj) Presiden Mahasiswa UIR.
Bagi Dimas, dua peran yang ia emban bukanlah identitas yang terpisah. Ilmu Psikologi adalah “hati” yang membentuk empati dan ketajaman analisis kemanusiaan. Sementara jabatan Presiden Mahasiswa adalah “tangan” yang mengeksekusi aksi. Ia meyakini bahwa kepedulian tidak cukup hanya dengan rasa iba, tetapi harus dibarengi intervensi yang terukur dan berdampak nyata.
Keputusan untuk terjun langsung ia ambil segera setelah melihat besarnya dampak bencana yang tersebar di media sosial. Sebagai mahasiswa Psikologi, ia merasa memiliki tanggung jawab profesional untuk hadir pada luka yang tidak berdarah luka psikologis yang jika dibiarkan bisa berkembang menjadi trauma jangka panjang. Sebagai pemimpin mahasiswa, ia merasa ada amanah moral untuk membuktikan bahwa mahasiswa UIR bukan hanya kritis dalam wacana, tetapi juga responsif dalam aksi.
Di lokasi bencana, Dimas bersama tim menerapkan pendekatan Psychological First Aid (PFA) dengan prinsip look, listen, and link. Ia melakukan observasi terhadap anak-anak yang mengalami syok, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkan mereka dengan bantuan yang dibutuhkan. Melalui sesi play therapy dan art therapy, ia membantu anak-anak menyalurkan emosi yang sulit diungkapkan lewat kata-kata.
Kepada remaja, ia membangun resiliensi melalui diskusi kelompok dan future mapping, mengajak mereka kembali berani merancang mimpi. Sementara kepada orang dewasa dan lansia, ia mengajarkan teknik stabilisasi emosi, relaksasi pernapasan, hingga penguatan spiritualitas sebagai sumber ketenangan batin.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang sebelumnya tak mau berbicara, perlahan mulai menggambar rumah dengan pintu berwarna merah.
“Bang, nanti kalau rumah kami dibangun lagi, pintunya mau saya cat merah biar Ayah tahu itu rumah kami,” ucap anak itu pelan. Bagi Dimas, kalimat sederhana itu adalah tanda kembalinya harapan.
Ia menyadari bahwa pemulihan sejati bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang runtuh, tetapi merajut kembali mimpi yang hampir hilang.
Di tengah kebisingan pengungsian, stigma terhadap bantuan psikologis, hingga kelelahan empati yang muncul, Dimas belajar bahwa ilmu tanpa aksi adalah hampa, dan aksi tanpa ilmu adalah buta. Ia harus tetap berdiri tegak di tengah badai agar bisa menjadi jangkar ketenangan bagi orang lain. Pengalaman itu menyempurnakan identitasnya sebagai mahasiswa dan pemimpin: bukan untuk dikenal karena jabatan, tetapi karena dampak yang ditinggalkan.
Bagi Dimas, menjadi Gen-Unggul UIR adalah tentang mentalitas. Unggul bukan sekadar nilai akademik, tetapi kemampuan mengintegrasikan ketajaman intelektual dengan kelembutan hati. Mahasiswa unggul adalah mereka yang berani turun ke lapangan, menjadikan ilmu sebagai solusi, dan menghadirkan kepedulian sebagai aksi nyata.
Lebih lanjut, Ia berpesan kepada mahasiswa lain untuk tidak menunggu lulus agar menjadi berarti. Dampak besar, menurutnya, sering kali bermula dari kesediaan sederhana untuk hadir dan mendengarkan. Karena pada akhirnya, keunggulan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi kita berdiri, tetapi dari seberapa banyak tangan yang mampu kita bantu bangkit kembali.(kh/hms)
Baca infomasi mengenai seputar kampus lainnya pada laman https://uir.ac.id/
Sera kunjungi laman Pendaftaran Mahasiswa Baru UIR pada website https://pmb.uir.ac.id/


