Penghujung tahun 2024 Student Chapter (SC) Asosiasi Panasbumi Indonesia (API/INAGA) Universitas Islam Riau (UIR) resmi dilantik. Pelantikan dilaksanakan secara simbolis dengan menyerahkan uniform SC INAGA dari Dekan Fakultas Teknik,Dr. Ir. Deddy Purnomo Retno, ST, GP-Utama kepada ketua SC INAGA, Muhammad Deru Pratama, serta pemotongan tumpeng yang diserahkan kepada ketua SC INAGA dan Ir. H.Dike Fitriansyah Putra, ST, M.Sc, MBA mewakili advisor SC INAGA UIR.
Kegiatan juga sejalan dengan berlangsungnya Seminar Nasional Panas Bumi dengan tema “Fossil and Geothermal Collaboration in Advancing The Renewable Energy Transition”. Sekjen Asosiasi Panasbumi Indonesia (API/INAGA), Riza Pasikki, M.Sc, yang juga menjabat sebagai Chief Operation Officer PT. Sarulla Energy dan Direktur Utama PT Geodipa Energy, Yudistian Yudis menjadi narasumber pada seminar nasional
Riza Pasikki memaparkan target RUPTL yang akan dicapai Indonesia sebesar 2,2 GW di tahun 2030 dengan investasi 12 milyar USD yang diharapkan akan membuka 33,000 pekerjaan. Sedangkan, Yudistian Yudis memaparkan manfaat energi panas bumi bagi ketahanan energi nasional dengan menyediakan listrik ramah lingkungan dan mendorong peningkatan ekonomi lokal atau daerah sekitar.
“Baru kali ini kami mengisi materi di universitas yang pesertanya sangat antusias. Kadang kami berfikir apakah peserta mengerti apa yang dijelaskan, karena tidak ada yang bertanya. SC dibuat oleh satu prodi saja, teknik perminyakan atau teknik geologi. Di UIR ada 5 prodi yang menjadi SC, ini merupakan kolaborasi multi disiplin yang komplit”, tutur Yudis.
Seminar dipandu oleh Ketua Pusat Studi Energi UIR, Dike Fitriansyah Putra. Di awal sesi pemaparan narasumber, Dike mengatakan, “Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk berbicara tentang energi, tetapi juga tentang tantangan dan tanggung jawab besar yang kita emban sebagai bagian dari generasi transisi. Kita sedang berada di persimpangan jalan sejarah energi dunia”.
Pada satu sisi, individu akan menghadapi tekanan global untuk mengurangi emisi karbon guna menghindari krisis iklim yang semakin nyata, sedangkan pada sisi lain, kebutuhan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. (hms/smh/rls)



