Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau (UIR), Atikah Bagawan, B.S., M.A., Ph.D., bersama tiga peneliti lainnya mengembangkan penyempurnaan program intervensi berbasis keluarga untuk mendukung kemampuan komunikasi sosial anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autisme. Penelitian bertajuk Family Focus Groups to Refine an Online Intervention to Support Interactions Between Siblings With and Without Autism ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Education and Training in Autism and Developmental Disabilities pada 2026.
Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan intervensi Speak, Play & Listen, sebuah program pendampingan daring yang melibatkan orang tua dan saudara kandung tanpa ASD dalam membangun interaksi positif bersama anak dengan autisme. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya hubungan sosial dalam lingkungan keluarga bagi perkembangan anak dengan ASD, khususnya dalam kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Menggunakan pendekatan Person-Based Approach (PBA), peneliti menghimpun pandangan dan pengalaman keluarga untuk menyempurnakan program intervensi.
“Untuk memastikan program tersebut sesuai dengan kebutuhan keluarga, penelitian ini menggunakan Person-Based Approach (PBA), yaitu pendekatan pengembangan intervensi yang menempatkan pengalaman dan perspektif pengguna sebagai dasar penyempurnaan program. Kami melaksanakan empat kelompok diskusi (focus group) yang melibatkan 14 orang tua, 7 remaja yang memiliki saudara dengan ASD, dan 9 saudara kandung dewasa. Para peserta memberikan masukan mengenai manfaat, tantangan, serta berbagai saran pengembangan intervensi”, terang Atikah Haira Bagawan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua dan saudara kandung menilai program tersebut memiliki potensi dalam mempererat hubungan keluarga, meningkatkan empati, serta membantu memahami cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak dengan ASD. Meski demikian, partisipan juga mengidentifikasi sejumlah tantangan, mulai dari perbedaan minat dan kemampuan komunikasi hingga kesulitan mempertahankan keterlibatan anak selama aktivitas berlangsung. Orang tua turut menyoroti risiko munculnya beban tanggung jawab berlebihan pada saudara kandung tanpa ASD apabila keterlibatan mereka tidak diarahkan secara tepat.
Menindaklanjuti temuan tersebut, peneliti menyempurnakan materi intervensi dengan menambahkan lima video demonstrasi aktivitas saudara kandung, materi pengelolaan emosi, edukasi mengenai karakteristik ASD, serta keterampilan komunikasi seperti kompromi dan negosiasi. Program ini juga diperkuat dengan penekanan pada keteladanan (modeling), bukan membebankan tanggung jawab pengasuhan kepada saudara kandung tanpa ASD. Penyempurnaan tersebut bertujuan menjadikan intervensi lebih fleksibel, mudah dipahami, serta sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing anggota keluarga.
Lebih lanjut, dengan adanya penelitian ini menegaskan pentingnya keterlibatan keluarga dalam mendukung perkembangan komunikasi sosial anak dengan ASD, tanpa mengabaikan kebutuhan emosional setiap anggota keluarga. Melalui kontribusi penelitiannya Atikah Bagawan bersama tim menghadirkan perspektif berbasis pengalaman keluarga sebagai landasan pengembangan program intervensi yang lebih relevan dan responsif. Peneliti juga merekomendasikan pelibatan langsung individu dengan ASD dalam penelitian berikutnya agar pengembangan intervensi semakin memperhatikan suara, kebutuhan, dan preferensi mereka.(kh/hms)
Penulis : Atikah Bagawan, B.S., M.A., Ph.D., (UIR), Sarah N. Douglas, dan Prince Owusu (Michigan University), dan Brennan Haugen (University Cambridge)
Sumber Artikel :
Sumber Gambar : bmm.or.id


