Pada era teknologi informasi dan komunikasi, kecerdasan buatan tidak hanya dipahami sebagai istilah teknis, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar manusia untuk memperluas ilmu, menjaga bahasa, dan memberi manfaat bagi peradaban. Seperti penelitian yang dilakukan oleg Guru Besar UIR Prof. Dr. Arbi Haza Nasution, B.IT (Hons)., M.IT aktif membangun rekognisi riset di bidang kecerdasan buatan, Natural Language Processing, dan Large Language Models.
Salah satu focus penelitan yang penah ia lakukan yaitu Large Language Model untuk Kajian Al-Qur’an, menuju kecerdasan buatan yang amanah, inklusif, dan berlandaskan ilmu. Riset ini berawal dari kepedulian terhadap bahasa-bahasa dengan sumber daya rendah, atau low-resource languages. Menurutnya bahasa bukan hanya sekadar alat komunikasi, melainkan bahasa adalah identitas, ingatan, budaya, dan cara suatu masyarakat memahami dunia.
Large language model telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, menulis, membaca, mencari informasi, bahkan mengambil keputusan. Model seperti ChatGPT, Gemini, LLaMA, Qwen, DeepSeek, dan berbagai model lainnya mampu memahami instruksi, menjawab pertanyaan, menyusun ringkasan, menerjemahkan teks, membantu pemrograman, menganalisis data, dan memberikan penjelasan dalam bahasa yang mudah dipahami.
Beberapa pertanyaan muncul bisakah AI menjawab pertanyaan tentang Al Qur’an?, bisakah AI menjawab dengan amanah? bisakah AI menunjukkan sumbernya? bisakah AI membedakan antara ayat, terjemahan, tafsir, pendapat ulama, dan penjelasan tambahan? Dan bisakah AI mengatakan tidak tahu ketika pertanyaan berada di luar kapasitasnya?
Dalam penelitian tentang Retrieval-Augmented Generation, atau RAG untuk studi Al-Qur’an, Prof. Dr. Arbi Haza Nasution, B.IT (Hons)., M.IT mengkaji bagaimana model bahasa besar dapat dibantu oleh sistem pencarian sumber. Secara sederhana, RAG adalah pendekatan yang membuat AI tidak menjawab hanya berdasarkan ingatan internal model, tetapi terlebih dahulu mengambil informasi dari sumber yang relevan.
Dalam penelitian RAG untuk kajian Al-Qur’an, iamembandingkan berbagai open-source large language models. Ini penting karena tidak semua model memiliki kemampuan yang sama. Menurutnya, LLM telah membuka peluang besar dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, penelitian, keamanan siber, industri migas, keuangan, kesehatan, hukum, hingga teknologi multimodal. Bersama tim peneliti dan mahasiswa, berbagai riset telah dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan LLM dalam proses anotasi data, deteksi phishing, prediksi industri migas, analisis sentimen pasar modal, evaluasi penerjemahan mesin, pemodelan pengetahuan hukum melalui GraphRAG, hingga penerapan AI pada bidang kesehatan dan pendidikan.
Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan AI untuk Al-Qur’an tidak cukup hanya mengandalkan model bahasa yang besar, tetapi juga memerlukan sistem evaluasi yang ketat. Peneliti menilai bahwa AI harus mampu menjaga kesesuaian jawaban dengan sumber, menghindari penggabungan informasi yang tidak tepat, serta memiliki kemampuan untuk mengakui keterbatasannya ketika dihadapkan pada persoalan yang membutuhkan fatwa maupun ijtihad ulama. Dengan demikian, AI diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti otoritas keilmuan Islam.
Lebih lanjut, penelitian ini merumuskan empat prinsip utama dalam pengembangan LLM untuk kajian Al-Qur’an. Pertama, setiap jawaban harus berbasis pada sumber yang dapat diverifikasi, baik berupa ayat, terjemahan, maupun tafsir. Kedua, sistem harus mampu meminimalkan hallucination sehingga tidak menghasilkan ayat ataupun penjelasan yang tidak memiliki dasar. Ketiga, AI harus memiliki kerendahan hati secara epistemik dengan mengakui keterbatasannya serta mengarahkan pengguna kepada ulama atau ahli ketika diperlukan. Keempat, AI harus bersifat inklusif dengan mampu menjelaskan kandungan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah sehingga dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Sumber Gambar : fraunhofer.de


