Gusti Ridha merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) angkatan 2021. Pada Sabtu malam tanggal 19 Juli 2025 ia berhasil menyandang gelar sebagai Bujang Pekanbaru tahun 2025, bersaing bersama 24 finalis lainnya.
Mengikuti event Bujang Dara merupakan pageant pertama yang diikuti. Ridha bercerita bahwa ia merupakan sosok yang aktif dalam dunia basket, namun tantangan muncul dan mulai berkeinginan untuk mencoba hal baru.
“Saya tertarik mengikuti event Bujang Dara ini karena percaya bahwa bujang Pekanbaru akan mendapatkan kesempatan emas untuk berkembang dan ini ajang anak muda bisa berkontribusi di bidang pariwisata Kota Pekanbaru”, tutur Gusti Ridha.
Sebagai generasi muda Ridha berkeinginan besar untuk bisa memotivsi anak muda dengan menjadi pribadi yang representasi positif mengenalkan budaya Pekanbaru, sehingga anak muda dapat mengenal dan paham pada budaya lokal.
“Proses karantina mengajarkan saya mendapat banyak pelatihan, mulai dari pembekalan budaya, kepariwisataan, public speaking, hingga kerja tim. Semua itu benar-benar membentuk saya hingga terpilih sebagai Bujang Pekanbaru 2025”, jelasnya.
Public speaking menjadi bakat yang menghantarkan Ridho menyandang gelar bujang. Sebagai mahasiswa UIR ia juga berusaha mengharumkan nama kampus dan menjadi jembatan antara budaya, pendidikan, dan masyarakat. Gelar ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa UIR mampu bersaing dan berkontribusi.
“Alhamdulillah, dukungan dari teman-teman dan dosen sangat besar. Mereka memberikan semangat, masukan, dan bahkan membantu saat saya latihan unjuk bakat. Beberapa dosen juga menyempatkan diri memberi pesan moral yang membangun bahkan Rektor juga turut ikut serta dalam memberikan pembekalan seputar communication skill pada saat pra karantina”, tutur Gusti Ridha.
Dalam waktu dekat, Ridha berencana menginisiasi kampanye Travel Around The City with Bujang Dara (TATC), yaitu serial konten edukatif tentang budaya Melayu Pekanbaru yang dikemas secara kreatif di platform digital. Ia juga ingin melanjutkan program Explore City with Bujang Dara (ECBD) yang merupakan sebuah gerakan kolaboratif untuk mengedukasi pemuda tentang budaya lokal, leadership, dan literasi digital.
“Saya membawa semangat islami, intelektual, dan integritas yang diajarkan UIR. Dalam setiap kegiatan sebagai Bujang, saya berusaha tetap rendah hati, terbuka, dan menjunjung etika. Saya ingin menunjukan bahwa mahasiswa UIR tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter dan berkontribusi nyata”, tutup Ridha. (hms/smh)




