Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih menjadi ancaman serius dengan dampak luas terhadap kesehatan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, pada 2023 terjadi lonjakan hingga 44 kasus karhutla, meningkat tajam dibanding hanya 68 kasus pada 2022. Kendati pemerintah telah menerapkan regulasi seperti Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2019 serta membentuk Satgas Karhutla, kenyataan di lapangan menunjukkan masih adanya celah dalam penanganan.
Hal inilah yang diteliti oleh tim dosen Universitas Islam Riau (UIR) diantaranya Dr. Dita Fisdian Adni, S.IP., M.IP., Dr. Evi Zubaidah, S.Sos.I., M.Si., serta kolaborasi dengan peneliti internasional seperti Cristine B Tenorio dari Mindanao State University Phillipine. Dalam publikasi yang berjudul International Journal of Safety and Security Engineering edisi April 2025, penelitian ini menegaskan bahwa dinamika politik memegang peran penting dalam efektivitas kebijakan penanggulangan karhutla. Fluktuasi anggaran, perubahan prioritas menjelang pemilu, serta tarik-menarik kepentingan antaraktor politik menjadi faktor yang kerap melemahkan konsistensi kebijakan.
Riset kualitatif ini melibatkan wawancara dengan pejabat pemerintah, anggota legislatif, NGO lingkungan, hingga perwakilan masyarakat. Hasilnya menunjukkan, meskipun dukungan legislatif dan sektor swasta mampu memperkuat sisi teknis maupun finansial, kepentingan politik jangka pendek sering membuat kebijakan sulit berkelanjutan. Sebaliknya, keterlibatan NGO dan masyarakat dalam program seperti Desa Bebas Api dan pemanfaatan teknologi satelit memberi harapan lahirnya pendekatan yang lebih inovatif dan partisipatif.
Menurut Dita Fisdian Adni, keberhasilan penanggulangan karhutla di Riau tidak cukup hanya dengan regulasi teknis, tetapi juga membutuhkan komitmen politik yang konsisten serta kolaborasi lintas aktor. Pemanfaatan teknologi pemantauan canggih, data berbasis riset, dan keterlibatan masyarakat diyakini sebagai kunci membangun kebijakan yang lebih adaptif. Dengan strategi berbasis bukti dan sinergi multiaktor, Riau diharapkan mampu keluar dari siklus tahunan karhutla dan menjadi model tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.(kh/hms)
Penulis :
Dr. Dita Fisdian Adni, S.IP., M.IP., Dr. Evi Zubaidah, S.Sos.I., M.Si., dan Cristine B Tenorio
Informasi detail artikel : Political Dynamics of Innovative Policy Development in Managing Forest Fires in Riau Province | IIETA
Sumber gambar : bnpb.go.id
Kunjungi website uir.ac.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.


