Disleksia adalah gangguan proses belajar spesifik yang membuat seseorang kesulitan membaca, menulis, dan mengeja. Gangguan ini biasanya lazim diderita oleh anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) sehingga tidak jarang menyebabkan sulitnya siswa memahami materi pembelajaran yang diberikan oleh Guru di kelas. Gangguan ini memang perlu melalui proses assesmen dan penilaian tersendiri dari ahli terkait untuk menerapkan pola belajar yang tepat bagi anak tersebut.
Mendasari hal tersebut, empat akademisi Universitas Islam Riau (UIR) memetakan perkembangan riset global mengenai intervensi kesulitan literasi bahasa Inggris pada siswa sekolah dasar dengan disleksia. Penelitian berjudul The Bibliometric Analysis of Interventions in English Literacy Difficulties of Primary School Students with Dyslexia tersebut dilakukan Sri Wahyuni, S.Pd., M.Pd., Assoc. Prof. Dr. Febrina Dafit, S.Pd., M.Pd., Assoc. Prof. Dr. Asnawi, M.Pd., dan Assoc. Prof. Fauzul Etfita, S.Pd., M.Pd., serta diterbitkan dalam Journal of Teaching and Learning, Vol. 20 No. 2 Tahun 2026.
Menggunakan pendekatan bibliometrik, peneliti menganalisis publikasi yang terindeks Scopus pada periode 2020–2025. Dari 63.184 dokumen pada pencarian awal, proses penyaringan menghasilkan 1.492 artikel yang relevan. Data tersebut dianalisis menggunakan Biblioshiny melalui RStudio dan divisualisasikan dengan VOSviewer untuk melihat tren publikasi, produktivitas penulis, institusi, negara, kolaborasi, serta perkembangan tema penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian mengenai literasi dan disleksia melibatkan 5.133 penulis dari 1.492 artikel. Namun, pertumbuhan publikasi mengalami penurunan sebesar 24,61 persen. Kolaborasi internasional juga masih terbatas, yakni hanya 20,84 persen dari keseluruhan publikasi. Amerika Serikat menjadi negara dengan produktivitas dan dampak sitasi tertinggi, sementara sejumlah kawasan di Afrika, Asia Tengah, dan Timur Tengah masih memiliki keterwakilan yang rendah.
Analisis kata kunci mengidentifikasi empat klaster utama penelitian, yaitu keterampilan literasi dasar seperti membaca dan kesadaran fonologis atau pembelajaran dan kondisi psikologis di lingkungan sekolah seperti gangguan bicara, komunikasi, dan interaksi sosial serta kemampuan menulis, decoding, dan efikasi diri. Temuan ini menunjukkan bahwa penelitian disleksia tidak lagi hanya menempatkan kemampuan membaca sebagai persoalan utama, tetapi juga memperhatikan aspek emosional, komunikasi, dan perkembangan siswa itu sendiri.
Lebih lanjut, penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi yang dilakukan sejak dini, terarah, dan disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa penderita disleksia. Peneliti juga mendorong kolaborasi internasional yang lebih luas, keterwakilan wilayah yang lebih beragam, serta pendekatan interdisipliner agar dukungan bagi siswa dengan disleksia semakin inklusif dan berkelanjutan.(kh/hms)
Penulis : Sri Wahyuni, S.Pd., M.Pd., Assoc. Prof. Dr. Febrina Dafit, S.Pd., M.Pd., Assoc. Prof. Dr. Asnawi, M.Pd., dan Assoc. Prof. Fauzul Etfita, S.Pd., M.Pd.
Sumber Artikel : https://jtl.uwindsor.ca/index.php/jtl/article/view/9851
Sumber Gambar : www.halodoc.com


