Di tengah ancaman banjir yang kerap merendam lahan pertanian di kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau sekelompok perempuan tani kini mulai menatap masa depan dengan lebih optimistis. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Kelompok Wanita Tani (KWT) Barokah Tani diperkenalkan dengan teknologi sawah terapung yang memungkinkan mereka tetap menanam padi meski air menggenangi lahan. Inovasi ini menjadi secercah harapan bagi petani yang selama bertahun-tahun harus menghadapi risiko gagal panen akibat banjir musiman.
Teknologi sawah terapung tersebut dikembangkan oleh tim dosen Universitas Islam Riau (UIR) yang diketuai oleh Dr. Ir. H. T. Edy Sabli, M.Si., bersama Dr. Mardaleni, S.P., M.Sc., dari Fakultas Pertanian serta Dr. Zalfis Zaim, S.T., M.Eng., dari Fakultas Teknik didampingi oleh dua orang mahasiswa yaitu Naila Ayuningtiyas dan Windy Novianty.
Dengan dukungan pendanaan sebesar Rp36,795 juta, tim menghadirkan sistem budidaya padi adaptif yang memadukan konstruksi sawah terapung, metode System of Rice Intensification (SRI), pupuk organik teknologi nano, dan irigasi tetes sistem sumbu. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab tantangan utama yang dihadapi petani setempat, yaitu tingginya kerentanan lahan terhadap banjir dan rendahnya produktivitas pertanian.
Sawah terapung dibangun menggunakan 72 unit drum plastik berkapasitas 200 liter yang dirakit membentuk konstruksi menyerupai perahu. Di atasnya ditempatkan media tanam berupa arang sekam yang ringan dan berpori sehingga mampu menopang pertumbuhan akar padi secara optimal. Berbeda dengan sawah konvensional yang rentan rusak saat terendam air, sistem ini memungkinkan tanaman tetap tumbuh stabil di atas permukaan genangan.
Pada pelaksanaan awal, tim menggunakan varietas padi lokal Bujang Keritang yang ditanam dengan metode SRI, sebuah teknik budidaya yang dikenal mampu meningkatkan efisiensi penggunaan benih sekaligus mendorong pertumbuhan tanaman yang lebih baik.
“Tidak hanya menghadirkan teknologi, program ini juga menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan. Anggota KWT Barokah Tani terlibat langsung dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari perakitan sarana sawah terapung, penanaman, pemupukan, hingga pemeliharaan tanaman,” Ujar Mardaleni.
Melalui berbagai pelatihan dan bimbingan teknis yang diberikan, para peserta memperoleh pengetahuan baru tentang pertanian adaptif yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Bagi para petani perempuan tersebut, pengalaman ini bukan sekadar belajar teknologi baru, tetapi juga membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan perubahan lingkungan yang semakin tidak menentu.
Lebih lanjut, meski tanaman padi saat ini masih berada pada fase vegetatif, hasil awal menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Padi mampu tumbuh dengan baik meskipun berada di atas lahan yang tergenang air, kondisi yang sebelumnya sering berujung pada kegagalan panen. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi sederhana yang lahir dari kolaborasi ilmu pertanian dan rekayasa teknik dapat menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Lebih dari sekadar menghasilkan padi, program ini turut memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana banjir, serta membuka peluang penerapan teknologi serupa di berbagai wilayah rawan banjir lainnya di Provinsi Riau.(kh/hms)



