Biji Matoa Disulap Jadi Penyerap Limbah Logam Berat, Dosen UIR Kembangkan Biosorben Ramah Lingkungan

Di balik manisnya buah matoa yang populer di Riau, tersimpan potensi besar dari bagian yang selama ini kerap dianggap limbah yaitu bijinya. Siapa sangka biji matoa ternyata mampu dimanfaatkan sebagai penyerap logam berat berbahaya dalam limbah cair industri. Inovasi ini dikembangkan oleh dosen Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Islam Riau (UIR) Arief Yandra Putra, S.Si., M.Si melalui penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Asian Journal of Green Chemistry tahun 2026.

Penelitian tersebut berangkat dari persoalan pencemaran logam berat timbal atau Pb(II) yang masih menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Paparan logam berat dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan organ tubuh, kerusakan saraf, hingga penyakit kronis. Di sisi lain, teknologi pengolahan limbah yang umum digunakan masih memerlukan biaya besar dan menghasilkan residu tambahan yang berpotensi mencemari lingkungan. Melihat kenyataan dilapangan tersebut Arief Yandra Putra bersama tim peneliti mencoba menghadirkan solusi yang lebih murah, sederhana, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan biji matoa sebagai biosorben alami.

Dalam penelitian tersebut, biji matoa terlebih dahulu dikeringkan, dihaluskan, lalu diaktivasi menggunakan asam nitrat agar kemampuan penyerapannya meningkat. Material tersebut kemudian diuji menggunakan berbagai instrumen laboratorium modern seperti FTIR, SEM-EDX, BET, dan XRF untuk melihat struktur, pori, hingga perubahan kimia pada permukaan biosorben setelah menyerap logam berat.
Hasilnya cukup menjanjikan. Biosorben dari biji matoa mampu menyerap Pb(II) secara optimal pada pH 6 dengan waktu kontak 60 menit dan kapasitas adsorpsi mencapai 74 mg/g.

Menariknya penelitian ini juga menunjukkan bahwa permukaan biosorben mengalami perubahan setelah menyerap timbal. Analisis laboratorium memperlihatkan adanya akumulasi logam Pb pada permukaan biji matoa, membuktikan bahwa material alami tersebut benar-benar bekerja dalam menangkap logam berat dari air limbah. Tidak hanya itu keberadaan gugus hidroksil dan karbonil dalam struktur biji matoa turut berperan penting dalam proses penyerapan logam.

Lebih lanjut, bagi Arief penelitian ini tidak hanya berbicara tentang inovasi kimia lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini kurang bernilai ekonomis. Di tengah meningkatnya isu pencemaran lingkungan dan kebutuhan teknologi hijau, pemanfaatan limbah organik seperti biji matoa dinilai dapat menjadi alternatif solusi yang murah dan ramah lingkungan. Terlebih, tanaman matoa cukup mudah ditemukan di wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Riau.(kh/hms)

Penulis : Arief Yandra Putra, S.Si., M.Si. (UIR), Safni, Rahmia Zein, Emriadi (UNAND)
Sumber detail artikel : https://www.ajgreenchem.com/article_239741.html

Sumber Gambar : https://yogyakartakota.kemenag.go.id/

Share:

More Posts

Universitas Islam Riau Campus
Jl. Kaharuddin Nasution 113, Pekanbaru 28284
Indonesia

Telepon :  +62 761 674674
Faks :   +62 761 674834
Email : info[at]uir.ac.id

© Universitas Islam Riau developed by SIMFOKOM

Jl. Kaharuddin Nasution 113,
Pekanbaru 28284
Riau - Indonesia

FOLLOW UIR

Copyright © Universitas Islam Riau. Developed by SIMFOKOM

Copyright © Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) - Universitas Islam Riau.
Developed by BADAN SIMFOKOM

Copyright © Universitas Islam Riau. Developed by SIMFOKOM

Skip to content